kereta tanpa stasiun
Hari-hariku seperti kereta tanpa stasiun.
Terus melaju, tak pernah benar-benar berhenti.
Aku tidak tahu apa yang sedang kucari,
tapi aku tahu rasanya tak bisa diam…
karena saat diam, suara-suara di kepala menjadi lebih nyaring dari apa pun.
Ada banyak hal yang ingin kusampaikan,
tapi tak semuanya bisa kuucapkan.
Bukan karena tak punya kata—aku punya terlalu banyak.
Terlalu banyak hal yang bercampur,
hingga aku sendiri bingung,
mana yang harus kutuliskan lebih dulu
Kadang aku ingin turun sejenak,
bernafas, duduk, mungkin menangis.
Tapi kereta ini terus bergerak,
dan aku terlalu takut tertinggal
dari sesuatu yang bahkan aku sendiri tak tahu ke mana tujuannya.
Tiap malam aku menutup mata,
tapi pikiranku tetap membuka pintunya.
Aku lelah—bukan karena berjalan,
tapi karena terus merasa harus kuat.
Dan kadang aku bertanya dalam diam
“Apakah salah kalau aku hanya ingin dipeluk tanpa alasan?”
Di tengah semua itu, aku masih mencoba bersikap biasa.
Tertawa, menyapa, menolong, menjadi berguna.
Tapi siapa yang tahu kalau hatiku sedang kosong?
Siapa yang peduli bahwa setiap senyum yang kubagi
adalah upaya terakhir untuk meyakinkan diriku sendiri,
bahwa aku belum hancur seluruhnya?
Banyak orang bilang,
“Tenang saja, nanti kamu juga sampai.”
Tapi bagaimana bisa sampai,
kalau aku sendiri tidak tahu di mana stasiunku?
Untuk saat ini, aku hanya ingin jujur.
Bahwa aku belum tahu arah.
Bahwa aku belum tahu cara berhenti.
Dan mungkin, belum ada tempat yang benar-benar bisa kusebut “tujuan”.
Tapi aku menulis ini…
sebagai pengingat bahwa aku masih di dalam perjalanan.
Masih hidup, masih mencoba,
meski kadang hanya bertahan untuk satu hari lagi.
Kalau kamu membaca ini dan merasa hal yang sama,
ketahuilah: kamu tidak sendiri.
Ada kita—di dalam kereta yang tak selalu punya stasiun,
tapi setidaknya…
kita masih berjalan.
Komentar
Posting Komentar