Aku hanya tak punya apa apa bukan tak punya cinta

 Aku tahu aku bukan lelaki dambaan kebanyakan orang.

Bukan pria dengan wajah tampan atau dompet tebal.

Tapi setiap hariku, aku selalu mencoba mencukupi yang sebenarnya belum cukup.

Tak pernah aku meminta lebih darimu, selain kejujuran dan kesetiaan.


Namun entah sejak kapan, kau mulai berubah.


Kau masih bersamaku, tapi hatimu sudah melayang ke dunia lain —

ke layar-layar ponsel yang menampakkan pria-pria dengan gaya hidup yang membuatmu lupa darimana kau berasal.

Kau mulai mencuri waktu untuk merasa hidup di dunia yang lebih tinggi,

mengagumi pria-pria asing yang sesuai seleramu,

yang dari segi wajah, gaya hidup, dan pencitraan — terlihat lebih layak dari aku.


Kau bilang, kau ingin hidup yang lebih baik.

Kau ingin pasangan yang lebih menarik.

Kau ingin dicintai dengan cara yang mewah,

meski tak pernah kau lihat, cinta sederhanaku tak pernah lelah menunggu matamu kembali menoleh.


Aku ini lelaki yang sederhana,

yang setiap malam menatap langit sambil bertanya:

“Kurangnya aku di mana, 


Kau menganggapku tak cukup,

padahal aku hanya tak punya apa-apa —

bukan tak punya cinta.


Kau rela memberikan tubuhmu padaku,

tapi tidak hatimu.


Kau menyentuhku, tapi tak pernah betul-betul mendekapku.

Kau tidur di sampingku, tapi jiwamu selalu entah di mana.

Dan saat aku menggenggammu, aku sadar:

yang kupeluk hanyalah ragamu…

sementara hatimu sudah lama pergi mencari dunia yang lebih bercahaya.


Begitu berharganya hati manusia —

hingga kau lebih memilih menyerahkan segalanya,

asal bukan hatimu yang tersentuh olehku.



---


Tapi aku masih di sini.

Masih menggenggam semua luka dengan gelisah.

Aku bingung —

haruskah aku pergi dan menyelamatkan sisa-sisa harga diriku?

Ataukah aku tetap tinggal dan mencoba membangun semuanya dari awal,

meski fondasinya retak sejak kau menginjakkan kaki pertama kali di hubungan ini?


Karena akhirnya aku tahu juga…

Kenapa dulu kau menerimaku:

karena kau sedang patah hati.

Aku hanyalah pelarian dari sakit yang lain.

Dan saat luka lamamu mulai sembuh, aku berubah jadi beban.

Bukan karena aku menyakitimu,

tapi karena aku tak pernah menjadi cinta yang kau pilih dengan sadar.



---


"Kau rela memberikan tubuhmu, tapi menyimpan hatimu untuk orang lain…

Dan di situlah aku sadar:

ternyata yang tak bisa kubeli bukan kemewahan —

tapi tempat di hatimu yang tak pernah kau buka untukku."



---


Komentar

Postingan populer dari blog ini

🧠 5 Tips Efektif Mengajar Bahasa Inggris untuk Siswa SD Kelas 1 dan 2

Bukan Sekedar Statistik: Guru Harus Memberi Dampak Nyata

Bukan Hanya Duka Yang Belum Pergi, Tapi Juga Cinta Yang Masih Tetap Tinggal